sddss


http://sistem-informasi-machung.blogspot.com/2012/04/prosedur-pencatatan-harga-pokok-produk.html

Iklan

Prosedur pencatatan biaya produksi


21

 

Aliran proses pencatatan harga pokok produk barang yang dijual

Bagian produksi membuat surat permintaan bahan baku rangkap 2, lembar 1 diberikan kepada bagian gudang sedangkan lembar ke 2 disimpan sebagai arsip.
Bagian gudang menerima surat permintaan barang baku lalu mempersiapkan bahan baku yang diminta, membuat surat pengiriman barang rangkap 2. Lembar 1 disimpan sebagai arsip sedangkan lembar ke 2 dikirim ke bagian produksi beserta bahan baku.
Bagian produksi menerima surat pengiriman dan barang, lalu melakukan produksi. Setelah itu membuat laporan DM,DL,FOH rangkap 2. Lembar 1 disimpan sebagai arsip, lembar ke 2 dikirim ke bagian akuntansi.
Bagian akuntansi menerima laporan DM,DL,FOH. Berdasarkan laoran tersebut bagian akuntansi menghitung DMC,DLC,FOH. Lalu membuat laporan harga pokok produksi rangkap 2. Lembar 1 disimpan sebagai arsip. Lembar ke 2 dikirim ke manajer.
Bagian manajer menerima laporan harga pokok produksi,. Berdasarkan laporan harga pokok produksi bagian manajer menentukan margin laba lalu membuat laporan harga penjualan barang.

Job desc :

Bagian Gudang:

Menerima surat permintaan bahan baku
Menyiapkan bahan baku dan membuat surat pengiriman rangkap 2. Lembar 1 disimpan sebagai arsip, lembar ke 2 dikirim beserta barang ke bagian produksi

Bagian Produksi:

Membuat surat permintaan bahan baku rangkap 2. Lembar pertama dikirim ke bagian gudang, lembar ke 2 disimpan sebagai arsip
Menerima surat pengiriman beserta dengan bahan baku
Melakukan produksi
Membuat laporan DM(Direct Material),DL(Direct Labor),FOH(Factory Overhead) rangkap 2, lembar 1 disimpan sebagai arsip, lembar ke 2 dikirim ke bagian akuntansi

Bagian Akuntansi:

Menerima laporan DM,DL,FOH dari bagian produksi
Melakukan perhitungan DMC(Direct Material Cost),DLC(Direct Labor Cost),FOH. Lalu membuat laporan harga pokok produksi rangkap 2. Lembar 1 disimpan sebagai arsip. Lembar ke 2 dikirim ke manajer

Manajer:

Menerima laporan harga pokok produksi. Berdasarkan laporan tersebut menentukan margin laba, lalu membuat laporan harga penjualan barang.

2.
4
1. Produksi:
– Membuat data biaya BB, biaya overhead, biaya lain-lain untuk kebutuhan produksi.
– Membuat total biaya produksi berupa dokumen dan memberikan kepada manajemen keuangan.
2. Manajemen Keuangan:
– Menentukan harga pokok produksi untuk dijual.
– Harga pokok produksi yang dibuat dalam bentuk dokumen diberikan kepada pimpinan.
– Menentukan harga poko produksi yang layak/fix.
– Memberikan list haga pokok produksi yang telah direvisi kepada pimpinan.

3. Pimpinan:
– Membuat data harga poko produksi (fix) 2 rangkap, menyimpan dokumen no.2 di arsip.
– Menyetujui list daftar harga pokok produksi yang direvisi oleh manajemen keuanga dan menyimpan dokumen no.2 di arsip.

luwak, si luwaak!


Haai, lobiichoi comeback nih. Udah pada makan belom? Makan gih entar mati loh, gak punya makanan? Hmm DeritaLo.

Maksud w bikin pos ini tuh w mau curhat. Daripada nangis2 gak jelas, terus dipendem dalem hati, entar malah jadinya nyesek loh. Mending ngeblog aja.

W mau keluarin unek-unek w tentang orang yg w lumayan gak suka. W mau cerita tentang nih orang. Cerita loh ya! Bukan ngomongin orang, lagipula ini diketik, bukan diomongin, jadinya gak dosa doooong :3

W cerita tentang orang yang bisa dibilang atasan juga sih, tapi gak bisa dibilang atasan juga, tapi dia like a boss aja di rumah yang w tempatin sekarang.
Sebut aja dia L, Luwak, ia luwak aja. Kerjaan si luwak ini tiap hari bikin w galaoo melulu, banyak sifat dia yang gak w suka, hebatnya, w masih bisa sabaar sabaar, dan untungnya w masih inget dia itu sodara w, coba kalo bukan, udah w sisirin tuh luwak
“ dih, kok disisirin? Enak dong ”
Hahah kalian belom tau aja kalo w nyisirin orang gimana.
Mau coba? Sini..
* asah sisir *

Nih, list sikap si luwak yang gak boleh ditiru dan bener bener gak boleh ditiru :

1. Ribet
Kalo yang satu ini udah melekat banget sama dia. Ibarat penyakit sih udah akut, harus cepet cepet dibawa ke posyandu terdekat (imunisasi kali)
Beneran deh, lucunya, dia yang ngatain w ribet. Kan ceritanya w lagi disuruh ini itu, otomatis w bolak balik dooong, eh dia malah ngomong
“ ribet banget sih lu, bolak balik melulu ”
W jawab aja
“ ia ini lagi disuruh ini itu ”.
Hemmm…
Don’t u know? U are more rempong than me? Dia kalo ngelakuin sesuatu tuh ada ritualnya, ribet bener lah. Nih waktu itu kan w lagi disuruh dia beli sesuatu, dia ngasih w duit, terus dia bilang
“ taro kantong kenapa? Ribet banget jadi orang ”
Heee ni duit yang megang w, pake tangan w, lagi juga cuma goceng, siapa yang mau nyolong? Swiper si luwak itu? Hih!
Eh emangnya swiper tuh luwak yah?

2. Irasional (ceelah bahasa w)
Maksudnya gak masuk akal dan selalu mencari celah. W paling kesel deh kalo si luwak udah begini, dia itu nuntut yang gak ada, tapi harus ada. Heum, tapi w harus berterima kasih sama dia, dia nganggep w sebagai donghae yang bisa sulap ga ada menjadi ada.
Adaada aja kan? Misalnya w habis dari supermarket habis belanja, waktu dia cek ada barang yang gak ada .
“ ini kok xxxx ga lu beli? ”
“ gak ada , tadi udah dicari ”
“ gimana siiih? Udah tanya mbaknya belom? ”
“ udah ”
“ terus? ”
“ ya gak, ada, udah dicari sampe gudangnya ”
“ di rak nya udah dicari juga? ”
“ udah ”
“ ah elu kali nyarinya gak bener ”
“ *ancang2 sisir* udaaaah, gak ada …. ”
“ pokoknya cari, di mana kek, harus ada ”
Karungin sprei rainbow

3. Tak mau rugi
Haha, pelit, dalam artian lain. Gak tau yah kepelitan si luwak ini nurun dari siapanya, yang pasti nih orang bener2 , ehhhrgh..
Lagi2 insiden w sama si luwak tentang supermarket.
Kasus 1 :
Seperti biasa w habis pulang dari supermarket hanya untuk beli 2 barang yang ukurannya kecil, kaya roti tawar sama sabun cuci tangan.
Sesampai di rumah,
“ ya ampun kok plastiknya kecil sih, tadi kan udah w bilang minta yang gede terus di dobel ”
“ udah, tapi embak2nya bilang gak boleh, soalnya plastiknya udah di stok ”
Sebenernya w malu banget minta plastik dobel di supe*indo, tapi w tahan2 tuh malu dan w beranikan diri. Lagi nih luwak ada ada aja, beli 2 barang doang minta kantong gede, didobel lagi, hedeeh.
Dan ternyata, masalah belom selesai sampai sini
Kasus 2 :
“ eh kok kembaliannya kurang 200? ”
“ ia tadi dibuat jadi amal peduli gitu ”
“ harusnya lu bilang dong sama embaknya, mbak! 200 nya jgn di sumbangin ”
“ hem. ”
Sekali lagi, TENGSIN w, gila aja w ngomong begitu sama embaknya, muka w jadi kaya kepiting rebus yang direbus dua kali penyaringan kali. Lagian cuma 200, CUMA 200! Sini w gantiin!

4. Enggak bisa sabar
Si luwak ini gak bisa sabar, enggak kaya w yang sabar selalu*timpuk*. Dia gak mikir betapa w udah sungguh2 ngerjain apa yang dia minta tapi hasilnya………
Perkara deh, waktu w disuruh beli gado2 di belakang rumah w. Gado gado di ibu itu enak banget, otomatis banyak yang ngantri dooong. Tapi w gak tau deh tuh orang ngantri buat beli gado2 ato ngantri jadi pacar ibunya *eh.
Yang buat gado2 ini cuma 1 orang, sedangkan yang ngantri banyak, dan belom tentu juga tiap orang cuma beli 1, bisa lebih kan.
Ok w sabar nunggu giliran w, dan akhirnya dapet nih.
Dan semua berubah ketika luwak menyerang. Ketika w sampe rumah ditanyain.
“ heh kok lama banget ”
“ antri ”
“ antri antri, boong kali lu, kemana dulu kali lu. ”
“ enggak, tadi bener rame ”
Hiaaaat! Kamehameha w luncurkan ke luwak ini, emang u kira w beli gado-gado di taman anggrek gitu w bisa kemana mana dulu. Dasar pacarnya jajang!

Heuw, keluar juga unek2 w selama ini. Dari sini w tau, sabar itu indah, indah itu sabar, indah itu selalu sabar, tetapi buat w, kenapa sabar itu gak indaaaah …

(ㄒ≈ㄒ)